Sunday, September 05, 2010
I wish . . . . .
Macet sampe mencreeeettttttttt . . . . .
1. Pemutihan SIM
Kenapa aku berpikir ini adalah hal yang bisa dilakukan adalah karena berangkat dari beberapa fakta bahwa jumlah pengendara bermotor baik roda 2 ataupun 4 sudah sungguh banyak. Dan bagi yang tiap harinya bergelut di jalan raya mengemudikan kendaraannya pasti akan sedikit banyak terheran-heran dan kegeregetan dan tingkah laku dan sikap berkendara dari beberapa jika tidak sebagian besar pengendara yang tidak kenal sopan santun dan etika.
Hal ini aku pikir berangkat dari kesalahan di awal pengurusan SIM yang kalau kita mau jujur mengakui . . . amat sangat mudah untuk didapat. Ayolah . . . mari kita sama2 tidak munafik. Jika kita inget ketika kita mengurus SIM, akan kita dapati betapa mudahnya dan simple syarat yang harus dipenuhi (padahal ini saja masih ngurus sendiri dan engga’ pake calo). Cukup memenuhi syarat administrative dan ujian tertulis . . . nunggu . . . dan voila !! You’ve just got a driving license and ready to roll the streets of Indonesia >:).
But wait . . . masa engga’ ada tes praktek :-/ ??? Theoretically there should be one, namun fakta di lapangan berbicara bahwa hal ini tidak pernah dilakukan oleh polisi yang menguji kita. Bagi mereka, cukuplah mereka tahu bahwa kita bisa dan tahu cara membawa kendaraan secara mendasar. Apakah hal ini cukup? I don’t think so . . . coz it’s not just a matter of able to drive, but also a matter of how to act and behave on the street when driving. And to be honest, i really think most drivers in Indonesia do lack this basic knowledge and ability to behave appropriately and courteously. They might be good drivers in terms of skill but speaking of acting politely? We’re just mere noobs T.T
Karena inilah, saya fikir bahwa perlu diadakan pemutihan SIM untuk menyaring kembali siapa2 saja yang bener2 layak tuk mengemudikan kendaraan dengan kemampuan mendasar mengemudi yang mumpuni sekaligus sopan dan bertata krama. Jika dilakukan, perkiraan pribadiku sih mengatakan g bakal ada 20% dari total pemilik SIM (semua jenis) yang bener2 layak memiliki SIM. Lumayanlah kalo begini, tentu jalanan2 di Indo akan sedikit lebih sepi dan para pengendara lebih sopan di jalan :D.
2. Pembenahan dan penambahan transportasi massal
As for this part, it’s not just about repairing and adding, it’s also about providing mass transportation that suits all kind of people regardless of their class. Jika kita liat fakta yang ada tentang transportasi massal di Indonesia, sebenarnya sudah ada langkah2 perbaikan dan pembenahan (walo mungkin masih bisa dikatakan tambah sulam solusinya >_>). Hanya saja, sepertinya kok yang naik transportasi massal g pernah yang dari golongan “the have” ato para pemakai dasi nan berjas? Padahal golongan2 ini saja di luar negeri sangat mau dan lebih prefer menggunakan transportasi umum daripada menaiki kendaraan pribadi mereka yang cozy.
Ada gerangan apakah . . . hmmmm . . . Well, i think it all has to do with another fact that the public transportation in Indonesia are pretty much lousy and has a low class look to it. Add them up with the condition that they are frequently late and overcrowded; no wonder high class people get an ill feeling to ride them.
That’s one thing, but there are also many subsets of public transportation that needs to be mended. Aspects such as integration of every transportation mode, punctuality, infrastructure building and funding (and all other factors that I might have forgot or mentioned) all play a vital role in enabling a good and suitable public transportation mode to go on track.
3. Law Enforcement
Huehehehe . . . ok . . sapa yang pernah ditawari damai ma polisi ketika kita melakukan pelanggaran? Atau jangan2 kita malah yang ngajak polisi damai :P ? Terlepas siapa mengajak siapa, yang jelas sudah jadi rahasia umum bahwa penegakan hukum untuk pelanggaran lalu lintas di jalan bisa dikatakan masih belum bisa membuat pelanggar2 jera. Seringkali banyak pelanggaran (ok . . . try to list some of them, I’m just tired to do so xP) terjadi di jalanan tapi polisi malah membiarkannya.
Entah karena kurang berani, kurang personel, kurang alat pendukung, atau kurang . . . . yang jelas hal ini masih menjadi salah satu hal pendukung tertibnya lalu lintas yang dirasa masih kurang. Yang ada juga adalah kenyataan bahwa polisi (bersama pemerintah) baru melakukan tindakan nyata setelah terjadi suatu peristiwa yang memakan korban jiwa atau menimbulkan kerusakan umum yang sangat parah. Jika demikian, tampak nyatalah bagaimana reaktifnya aparat polisi kita >.<
Sekedar saran sih . . . alangkah baiknya jika polisi juga terus dan terus mengampanyekan langkah2 preventif meminimalisir pelanggaran sehingga kemacetan dapat dicegah. Unless Indonesian people are already out of their minds, I’m sure the police can play their role in helping threading out traffic congestions ;)
4. Perangkat hukum
Terkait dengan poin sebelumnya diatas . . . perangkat hukum kita juga sepertinya juga masih keteteran tuk memberikan efek jera sekaligus tidak bisa mendukung terciptanya terobosan2 baru dalam terciptanya kelancaran lalu lintas. Entah karena apa ya . . . pemerintah kita kok kesannya lambat nan lelet tuk memberikan paying hukum yang memadai hiks...hiks...hiks... T_T
5. Political goodwill
Menjawab permasalahan poin diatas, nampaklah nyata kenapa pemerintah lelet. G lebih karena kurangnya niat dan keberanian mereka tuk menerapkan hukum yang jelas dan tegas demi terciptanya kondisi lalu lintas yang lancar dan kondusif. Kalopun ada niat baik dari pemerintah . . . lagi2 niat yang ada hanyalah bersifat tambal sulam dan tidak komprehensif menyangkut berbagai aspek yang terkait. Jadinya . . . seringkali beberapa pihak merasa diuntungkan, beberapa yang lain menolak dengan keras . . . beberapa saat kemacetan reda . . . namun beberapa saat kemudian menjadi macet dan tambah paraaaahhh . . . :(
6. Car producers
On this part . . . I’m quite ambivalent to say whether car producers have a role or not in making ou traffic congestion problems worst or not :-?. But, we just cannot deny the fact that Indonesia as one of the largest market for car producers, also contribute to the rising increase in car usage, especially on an individual level. Ditambah lagi dengan semakin dimudahkannya kepemilikan mobil beserta cara pembayarannya, rasanya membeli mobil sekarang dah seperti beli kacang goreng.
Rasanya ini dululah tuk sementara. Aku tahu bahwa isi tulisanku ini masihlah dangkal tuk bener2 menyatakan satu per satu sebab kemacetan. Tapi ya namanya juga isi hati yang jengkel atas kemacetan (terutama di Jakarta) jadinya ya terciptalah notes/blog ini. I bet there are other ingineous minds out there that can help and try to solve one of Indonesia’s worst problems. Feel free to comment ya ;)
Wednesday, April 14, 2010
Anyway . . . By The Way . . . Busway . . .
Dibandingkan 10 tahun lalu aja, Jakarta alhamdulillah telah tambah macet (lho kok malah disukurin sih >.<). Oleh karena itu, pemda DKI telah timbul suatu ide bagus beberapa tahun terakhir yakni dengan membangun suatu jaringan transportasi yang dinamakan dengan busway. Ide ini diambil dari cara serupa di Negara Bolivia nun jauh di sebarang samudera. Konon katanya disana dengan adanya hal ini, jalan2 kagak macet. Dan diharapkan….mantera penerapan metode ini akan bisa membuat Jakarta bebas macet :P.
Well . . . pertama2 emang sih busway ini keliatan mantap. But as things go on at the first place in this country, things get worst as time passes by. Walo dalam tahun2 berikutnya jalur busway telah ditambah berikut dengan armadanya, sepertinya kemacetan tetap menghantui ibukota negeri tercinta ini. Dengan pengamatan sekilas, selain masalah tidak berkurangnya kemacetan, sepertinya ada beberapa aspek lain yang bisa ditelaah dibalik kegagalan yang ada.
Dari yang bisa kulihat, ide melepas harga tiket dengan nilai awal Rp 3.500 terkesan . . . wow…murang banget ciiiinnggggg xD, dan itu tetap berlaku sekalipun pindah koridor2 lain di Jakarta. In other words, hanya berbekal 3500 kita bisa bebas keliling Jakarta hanya dengan busway sodara2. Dan Pemda DKI akan memberikan diskon sehingga harga jadi Rp2000 apabila kita mau berangkata antara jam 5 sampe 7 pagi x).
Namun demikian, disinilah juga mulai salah satu masalahnya. Dengan harga flat segitu, bisa dikatakan pemda DKI nombok membiayai tiket2 itu. Apalagi banyak penumpang yang ternyata suka pindah2 koridor. So . . . jadilah mereka berpikir tuk menaikkan harga ato mengubah skema harganya (demikianlah rumor2 terbaru yang didengar) untuk menaikkan pendapatan mereka yang tergerus oleh semakin banyaknya free rider yang suka pindah koridor.
Next, ternyata emang seiring waktu, mutu layanan dari busway ini sendiri mengalami degradasi yang cukup mengganggu. Sekalipun seiring bergantinya tahun, koridor2 baru dibuka, sayangnya hal ini tidak diimbangi pula dengan peningkatan layanan bus itu sendiri dengan segala tetek bengeknya. Contoh yang bisa kita ambil adalah bahwa jalur2 busway masih sering diserobot oleh kendaraan2 yang tidak semestinya. Hal ini membuat lama tempuh busway menjadi semakin lama dan tidak nyaman karena tetap terjebak kemacetan kota ini.
Berikutnya, fasilitas dari busway itu sendiri seperti bus dan haltenya, bisa dikatakan jauh dari rasa nyaman yang membuat segenap penduduk kota ini mau berpindah ke fasilitas busway. Hawa panas dan masih seringnya fasilitas busway diserobot para PKL, pengemis, pengamen menjadi salah satu dari sekian banyak ketidaknyamanan yang kerap kita rasakan dalam penggunaan busway.
On an other perspective outside of what the busway’s have to offer, the lack of private transportation limitation is also a crucial cause of why people still can use their own cars freely. IMO, there should be some sort of levy or tax for any car ownage. The money earned can be put to develop better and comfortable public transportation. This would also discourage people on wanting to have more and more private cars. If the numbers of private cars ownings are not limited, any sort of new ideas regarding public transportation would be doomed as a failure because people still have the option to own their own cars at an affordable price.
So, it all goes back in the end to the political will from the government to take a holistic approach in tackling traffic congestion. Not only providing new methods, but also taking another step to limit private transport ownings. With this only can Jakarta be freed from their never ending curse of traffic congestion and heavy pollution.
Tuesday, March 30, 2010
Siri . . Siri . . . Siri . . . .
But before we step on how we should think about this matter, allow me to explain the different facts in regard to this type of marriage. The first type, is where you conduct a marriage as according to what is asked in the Islamic Law. The only difference is that you do not register your marriage to the civilian register. The second type is where you marry someone, but with the absent of the bride’s guardian.
With what’s going on, the worst part is the government is banning this practice by generalizing the above facts into one. Even though they did not, it is clear that banning this kind of practice not only contradicts Islamic law, but it also won’t even settle the problems they say happened due to this cause.
Despite the facts above, the proponents seem to be generalizing stuffs without taking a deeper look on why such phenomenon has happened. The cause itself is due to a wide range of reasoning, from poverty, intention to hide a certain marriage, working reasons, and all other possible cause. For poverty, well, it is known that the cost to register a marriage isn’t cheap in this country, so rather than banning sirri marriage, I was thinking why can’t the state make marriage registering cheaper or even free? Then at least people won’t have to hide their marriage.
Speaking of hiding marriages, some even do it due to working contract constraints or work conditions. It is well known that some work require for us to be single for a certain period of the work. In regards to this, I would rather hide my marriage. But it would be better for any kind of work to be not decided on our marital status. I mean. Marriage itself is a personal and sacred thing, why make it harder for married couple to get a job. Wouldn’t this just promote further acts of pre-marital sex? And when you already love someone and are determined to live the life of matrimony, wouldn’t it be just cruel just to hide your marriage for the sake of your work? It would be in my thoughts . . .
In short, the thought of banning this kind of marriage should really be reconsidered. I wouldn’t say it’ll even make things better, but it’ll just make things worse. To make things better, I’ld rather recommend to change and reform the practice of the marriage registration, make it cheap, make marriage simple, now wonder people now are used to having pre-marital sex cause they already think that marriage itself is a tedious yet expensive precesiion to begin with . . .
Tuesday, March 16, 2010
UAN . . . engga . . . UAN . . . engga . . .
Might seem like a simple and mundane matter, it has been able to stir the crowds and opinions of thousands of people across the nation. Either they support or oppose the implementation of a nationwide final exam, what’s really interesting is the fact that it illustrates how horrendous and messed up the education system is in my sadly beloved country.
For starters . . . the whole UAN thingy happened way back around the 70s as a tool to determine the graduation of high school kids. As years passed by, it had been through various changes in terms of names, implementation methods and what is being examined. In my days, it was called EBTANAS and put up 6 units to be examined, in which the subjects are determined by what major you’re taking at the time, whether science, social or languages.
And now it has changed names, but not only name. What changed and caused the whole controversy until now is the fact that this examination turned up to be the sole instrument to determine if a student passes high school. In my days, the final exam was one of the various instruments used aside the students 3 years evaluation by their home class teacher and their report. But now, everyone sees the final exam as some sort of final judgment that overlooks and disregards a student’s achievement and learning process over the pass 3 years they have been through.
On this part, honestly, I am in no position to judge whether this way is a fair way to conduct things, but if I were asked my personal opinion, I would say that things can be a lot more fairer if a student’s is evaluated on a comprehensive basis on all aspects from class X to the time they graduate. I mean, the essence of learning is all about internalizing everything we have learn't and gained from education and how we can implement and understand it through our lives. So it takes a lot of consideration to decide whether someone has failed or not. And using the final exam as a sole tool, I wouldn’t say it’s a good idea . . .
On the other hand, the final exam is also notorious for the fact that it raises its passing mark every year. What seen wrong is that the rise is seen as disregarding the fact that the education level and quality is not yet equally spread across the republic. Hence, for the opponents, they see that the government is turning a blind eye on the fact that they have yet to educate the citizens with equal quality on those in the established areas and cities.
I have to admit that the government still has its homework on providing better and equal education across the nation. But on the other hand, this doesn’t mean they shouldn’t raise the standards slowly. If this republic have to wait till all things are equal in terms of educational quality, I’m afraid that it’ll be too late. The fact now is that we are far left behind in terms of standards of graduation. And it ought to be done immediately while taking care of all the other problems simultaneously.
For the students, I can often see they do have idle time to protest the final exam. While it is a good thing to convey your thoughts and ideas in a healthy manner, I would rather prefer you guys to prepare for the exams thoroughly. The decision to tackle the final exam implementation, if it were to ever happen, would take years and a lot of consideration from the higher ups. By then, you might have entered college . . or even worked. So . . . its clear to put your efforts on what is inevitable . . . also with plenty amount of prayers too . . . last word . . . May
God Speed You ;).
Sunday, March 29, 2009
Happily young or rot older ?
Eniwei…segalanya bermulai pada sabtu pagi nan indah di butcher dimana aq bekerja. Semua berjalan dull seperti biasa…terutama karena belum padatnya kerja pagi itu….dan ketika kusedang menghayati memotong lapisan daging demi daging …eh…bos gw nnya…”tok…bagaimana pendapatmu tentang pasangan yang menikah muda…?setuju engga?”. Jujur aja…gw kaget pagi2 ditanyain pertanyaan berat macam itu. Bukannya gw sendiri engga pernah bicara masalah ini atau apa…Cuma gw emang secara pribadi sampe saat ini menghindari aja isu macem ini yg bagi gw agak2 “sensi”
Eniwei…mauku sih mengelak jawaban ini…but yeah…my bos insisted on me answering yes or no…Oh crap…now I’m in some sort of awkward position…Eniwei…I just answered..mostly no…hehe…now here where things get interested. She asked why I didn’t agree..?kujawab…karena kalo menikah muda..bagaimana anda akan menghidupi keluarga…bos gw jawab …”ya orang tua masing2 lah..”….gw pun reply…”okelah kalo begitu…masalahnya…sangat jarang ditemukan orang tua yang semacam itu”
Dan berikutnya kukekmukakan alasanku bahwa ketika 2 insan telah menikah…pada hakikatnya ortu sudah tidak bertanggung jawab atas mereka (terutama secara keuangan)…but then…my bos said…”lho…kenapa harus tidak lagi bertanggung jawab?”…now…this is where I suddenly felt checkmate :P…
Pembicaraan selanjutnya yakni bos-ku ngomong bahwa di dunia sekarang ini…dalah mengapa menikah muda bener2 dipermasalahkan padahal anak2 sekarang secara fisik tumbuh dewasa secara cepet…which also means that they are physically mature (especially in terms of sex). But then…just coz of not financially ready…then many people decide to not or at least postpone marriage. Until this…she did hae a point…
And then…bos ku bilang mengapa ada pandangan bahwa ketika anak sudah menikah dikatakan bahwa tanggung jawab ortu putus..itu lebih dikarenakan alasan budaya doang…dan ketika kuberpikir sampe point itu…gw juga inget…apa ada dalil ayat baik di al-qur’an atopun hadist-lah yang mengatakan bahwa ortu tidak lagi bertanggung jawab atas anak2nya (especially financially) ketika mereka2 sudah menikah?engga ada deh rasanya…:P
But I tried to refute by saying that once married, a man has the responsibility to feed the family or in other words…work. Till here…we both agreed. Tapi bosku menambahkan…betul emang demikian…tapi faktanya seringkali hal ini menyebabkan anak2 muda takut untuk menikah hanya karena alasan kerja…kerja…dan kerja. Kalopun sudah kerjapun…masih banyak dijumpai para bujang yang tidak mau menikah…alasannya….yg lom mapan lah yg itu lah dan 1001 alesan lainnya.
That was one fact that I couldn’t deny…even 4 myself. Another fact that my bos stated was about bagaimana para bujang harus seringkali menempuh pendidikan tinggi (sampe S2) dan pada saat yang bersamaan harus menekan gejolak naluri biologi terhadap lawan jenis di tengah gempuran keterbukaan aurat disana sini yang dah bener “syaithannirajimmmm” (istilah gw sendiri :D ). Dia menambahkan…apa para bujang2 perlu menunggu utk lulus utk kemudian kerja trus baru nikah?Can’t just both the parents help out at least with the funding of their education while still maintaining their marriage?Must it be education…or work that separates two loving people from being married to each other?
Up till this point…I couldn’t say more…What my boss said was in fact all the most true…Kenyataan (atau mungkin tatanan masyarakat) seringkali harus kejam terhadap para bujang2 (dan perawan2 maybe :D ). But my boss put more emphasis on parents nowadays…why do they have to require their kids to graduate and get a job (for boys) before getting married?Can’t they help and play their part in helping young married couple by soothing their financial distress (especially when they both have to undergo uni 1st).
Mendengar omongan itu…aq juga jadi berpikir…alangkah baiknya jika semua orang tua bisa seperti yang didambakan bos gw. Kadang gw juga mikir…anak2 jaman sekarang emang cepet banget dewasa secara fisik. Dan tentunya hal ini juga membawa konsekuensi hasrat penyaluran nafsu seksual juga pada puncak2nya. Namun ya itu dia…selalu harus tertekan karena menyelesaikan skul/kul :-S
Selama hidupku pun aq pernah mendapati teman2q nikah muda dan alhamdulillah ortu mereka masih mau at least membiayai dari segi uang kul…beberapa bahkan masih ngasih uang saku ;) (ooohh…how lucky they are…). But in regards to them being married…I do notice some differences after they got married…something which me and my boss agreed on…they in certain ways…become mentally more mature in doing and facing life. I don’t know why…but I guess it’s coz of their binding commitment of marriage that makes them (even unconsciously) to do so.
Oh well…walo kita berharap ortu2 sekalin mau melakukan hal seperti yang diangankan bos gw…that’s life…changing such kind of thought frame is gonna take time. But I also like to add something from my POV concerning this matter. Just to add up things of what I’ve written down here ;)
Sebanyak apapun kita berharap agar ortu2 mau seperti itu…nyatanya juga bahwa anak2 sekarang walo dewasa secara fisik..tapi hamper kebanyak masih belum dewasa secara pikiran…alias masih berpikir kekanak-kanakan. So…How can we demand for parents to fulfill such wish if we even cannot prove to them that we are also mature in terms of mental and mind?
But then…it’s not us who’s completely us at fault here for being not mature in terms of mind. Tetapi system pendidikan kita yang juga berperan kita dalam membentuk pribadi yang tidak akan pernah siap secara mental. Untuk dapet dikatakan siap…bagiku kita harus secara awal dihadapkan pada kenyataan hidup dalam pendidikan kita agar kita dapat segera terjun ke masyarakat dan berpartisipasi…tapi faktanya sekarang?Kita dikungkung oleh berbagai jenjang pendidikan yang kebanyakan mengajarkan teori belaka yang kemudian membuat kita akan kagok ½ hidup sewaktu2 kita engga lagi bersekolah…why? Coz they haven’t taught us anything on how to survive in such time and age. They just teach us on how to make ourselves dependant on out parents (financially especially).
Eniwei…akan sangat bahagia andaikata kita bisa mendapatkan nikmat macem yang telah dirasakan oleh teman2 yang beruntung diatas. Tetapi kita juga harus memainkan peran kita bahwa kita juga telah sanggup bersikap dan berpikir secara dewasa aja, jangan Cuma dewasa fisik doang :D. Oh yeah….the current social system juga harus berperan dalam membentuk insan2 yang lebih mampu survive dalam usia muda dan tidak hanya membuat kita bergantung ama ortu aja…so…3 pihak inilah yang harus berperan kedepannya ;)
PS : For those lucky friends of mine out there…may Allah SWT bless u for able to fulfill half of your diens at such a young age ;)…hontou ni…INVU
Friday, January 09, 2009
Paradoxism
Mobilnya Jaguar….tapi itu aslinya punya majikannya…:P
Gelarnya professor….tapi hasil beli di sebuah lembaga pendidikan….
Ngakunya mahasiswa….tapi kerjaannya demo anarkis….
Katanya pelayan sipil….tapi jam 2 siang kantor dah sepi….
Katanya nyari utang luar negeri….tapi ke tempat perundingan naik limusin…
Ngomongnya sih minjem tuk modalin usaha….tapi nyatanya tuk beliin anaknya mobil baru…
Ngakunya bisa bela diri….bisanya jurus seribu langkah doang….:D
Bilangnya nggarap skripsi sendiri….aslinya dikerjain di tempat pengerjaan skripsi instan….
Ngakunya kita bangsa yang sungkan….padahal yang bener tuh sungguh mengharapkan….
Ngomongnya engga sex bebas….ternyata di kos-kos-an mainnya gaya WoT….:P
Ngakunya engga ada duit buat bayar ganti rugi….engga tahunya nongol sebagai orang terkaya di Indonesia….
Ngomongnya cinta sampai mati….ternyata bulan depan dah di pengadilan agama….
Katanya cinta produk dalam negeri….engga tahunya belanja di Orchard Road….:P
Ngomongnya gede mau jadi penegak keadilan….eh pas muda-nya malah jadi pencekik
botol….
Bilangnya sih otot gede gara2 banyak olahraga….eh dibelakang minumnya steroid mulu…..
Ngomong ke istri nikahnya pake duit sendiri….padahal aslinya duit hasil suap :P….
Negeri Salah Urus....
Mobil sana sini....tidak adakah upaya memajaki mereka demi sebuah transportasi publik yang layak dan murah???
Kerusuhan sepakbola....kapan mau ke piala dunia kalo kaya gini mulu....
Wakil rakyat ketangkap menerima suap....upaya memperoleh pemasukan setelah uang habis tuk meraih kursi parlemen....
Pengemis palsu dimana-mana....efek visualnya ngalah-ngalahin ahli2 d Hollywood sono....dan juga....kapan kita tahu sedekah dan zakat kita tepat sasaran...???
Pendidikan mahal.....kapan pendidikan jadi memerdekakan kita kalo mo skul aja mahalnya minta mati....
Penggrebekan sana sini...bukti arah pembangunan negeri ini tidak dirumuskan bersama dan berpihak pada wong cilik....
Larinya Sumber daya alam kita.....bukti tergadainya harga diri negeri kepada pihak asing demi suatu kata “pembangunan”
Tidak mau kembalinya pakar2 ahli Indonesia dari LN.....karena negerinya sendiri tidak sanggup menyediakan dana dan fasilitas memadai untuk mengembangkan keilmuan mereka...
2 F-16...2 F-5...2 Su-27 dan 2 Su-30 MKI.....Singapura aja bisa dengan mudah ngacak-ngacak wilayah udara kita....
Pasien salah diagnosa....bukti betapa dokter2 serampangan dalam menjalankan profesinya....
Menyeberang jalan padahal disampingnya ada jembatan penyeberangan......sudah buta dan malaskah kita sampai menelantarkan jembatan penyeberangan yang dibuat demi keselamatan kita sendiri....??
SIM A dan SIM C dalam 1 jam (dijamin!!)....entah jadinya jalanan Indonesia seperti apa....
Banjir sana sini....bukti ketidak pedulian kita secara menyeluruh tuk memperhatikan lingkungan....
Seks in da kos....hilangnya budaya timur dan datangnya budaya nafsu demi sebuih kenikmatan duniawi sesaat....
Pungli sana sini....menjadikan ekonomi berbiaya tinggi dan seretnya roda ekonomi....
Tenaker murah....upaya menggadaikan penduduk negeri demi sebuah kata....”Investasi asing”
Bertanya pas kuliah dimarahi....salah tambah dimarahi lagi....kapan negeri ini bisa kritis kalo dibeginiin mulu...makanya kebanyakan bisanya mem-beo mulu....jadinya YES-man....
Wakil rakyat minta laptop 25 Jeti....paling2 dipake main solitaire, chatting, donlot dan nonton film serta minum kopi (yang ditaro di tempat CD/DVD) pas siding berlangsung....:P
Wakil rakyat ketiduran pas siding....semoga karena mereka bener2 lelah demi mengurusi rakyat....
BBM mahal....akibat liberalisasi sector migas yang membabi buta....
Film cinta dan horror.....bukti bahwa kebanyakan cinta bisa mendatangkan horror dalam hidup:D
Timor Timur...Aceh....Papua....semoga tidak ada lagi wilayah lain yang menyusul.....
Penyanyi nyanyi lagu cinta....nyata-nyata-nya merekalah pelaku cerai sana sini....
....
....
....
....
....
Ah...sudahlah...sudah terlalu banyak masalah di negeriku....apakah ini bukti bahwa negeriku ini salah urus????
Monday, December 15, 2008
Unlucky Flood
Can you imagine….stuck 3 hours just because you’ve got all major intersections at Malang totally flooded at the height of an adults chests??Sounds crazy since Malang is a city at high levels….but there it is….Malang got Flooded yesterday!!!
I’m not gonna talk about the flood itself…but I’m more interested in how it could have suffered from flood. Well everyone…as you know…Malang has gone some rapid development over the past 10 years lately. But the problem is….semua pembangunan itu tidak disertai dengan perencanaan yang matang dan konsisten terhadap tata ruang dan peruntukan tempat yang seharusnya dan sepantasnya.
Mengapa aq menambahkan kata2 sepantasnya??Sekarang mari kita berpikir dan mengamati….First…Mall MATOS…mall yang digadang2 sebagai mall terbesar kedua d Jatim (demikian promosinya dulu) ternyata bersebelahan dengan kuburan!!!!Sudah gitu…..mall ini letaknya di deket tempat2 pendidikan. Engga matching bangetssss!!!!!And what do you get as a bonus with that new mall…..it roads in front always gets flooded.
Second….MOG….tidak hanya menyebabkan alur lalin d jalan kawi tambah sempit gara2 ada pembatas jalan baru….tapi mall ini juga memangkas tempat2 olahraga bagi warga malang dan lahan2 hijau disekitarnya….and also certainly…..menyebabkan banjir di jalan kawi-nya!!!!
Menjamurnya ruko2….emang sih….tempat berdagang itu penting…tapi bagiku….pertumbuhan ruko2 di malang bener2 sudah diluar batas kewajaran….apa kita emang butuh hadirnya banyak ruko?Kalopun iya….kenapa ujung2nya ruko2 itu malah yg dapat orang2 kaya?Melihat fenomena ini, saya kadang terheran dengan fakta bahwa orang2 mampu masih aja sempet dapet tempat berusaha….tapi para PKL 2 d jalan2 harus bahu membahu mempertahankan eksistensinya dari kejaran tramtb setiap ada penggrebekan…singkat kata….PKL2 lbih layak membutuhkan tempat2 usaha yang permanen bagi mereka daripada ruko2 yang seringkali menggusur lahan2 hijau d kota.
Ah..entahlah…keluh kesahku akan perubahan2 negatif d kotaku engga bakalan berhenti. Namun demikian….aq senantiasa berharap kota ini bias kembali menjadi kota asri nan sejuk sebagaimana dulu dikenal oleh orang2 zaman dulu….masa dimana pagi hari masih berkabut….masa ketika pagi hari masih dingin….dan masa ketika kota ini engga pernah mengalami banjir….amin;)
Saturday, October 11, 2008
PACARAN…..SO WHAT GITU LOHHHH!!!!!!
Teman bertanya…”tok…wis duwe ojob (bahasa malangnya pacar) durung…?”
Bos-ku bertanya ….”kamu sudah beristri kah tok?”
Temen2 ku orang Malaysia bertanya…”anto….sudah punya istri ato girlfriend belom?”
Singkat kata….kok dah pada rebut sih aku punya pacar ato woteper namanya????Apa mama gw dah sgitu kebeletnya pengen punya cucu??Apa temen2 ku sudah sedemikian sedihkah aku tak ada yang menemani hidupku???Apa Bosku sudah ingin liat anak buahnya ini segera merasakan bahagianya berkeluarga….???WHO KNOWS….
Well…I do have my reasons on why I haven’t had or tried to have a girlfriend….wanna know???
1. Punya pacar…aq emoh komitmen yg g jelas, pengennya yg jelas2 aja
2. Engga kuat modal tuk modalin kencan dll
3. aq masih ingin menikmati kebebasanq sebagai seorang jomblo sejati B-)
4. Klo masalah cri jodoh…gw mending yang serius sklian…g pake cara mbulet macam pacaran….
5. Biar bsa mundur teratur klo emang engga minat….:P
6. One more thing…..pacaran banyak mudhratnya rekk:D
Makanya….gw sd skrng masih setia ama status jomblo gw. Apalagi gw emang lom kerja…jadi mending mikir2 yg deket ajalah. Klo target nikah emang dah ada….tapi that’s still a loooooonnnngggg waaaayyyyyyy toooooo goooooo……
Ah udah gitu aja…males gw ngomongin ini….ribet….habis….semua orang pada nanyain itu….kesannya aku ini macam cowok engga laku:P
Saturday, June 28, 2008
Mahasiswa…Time 2 Ime-chen…;)
Mahasiswa, apa sih arti dari kata ini?Apa yang diharapkan dari kata ini?Apa yang diharuskan oleh obyek yang menanggung title ini?
Rata2 semua akan menjawab, mahasiswa adalah agen perubahan. Aq sedikit banyak setuju ama pendapat ini. Why?Coz mahasiswa merupakan salah satu masa paling berharga dalam hidup ketika seseorang dapat menunjukkan idealisme mreka, cita2 mreka dan dan asa mreka secara jernih. Sejarah membuktikan bagaiman para pelaku perubahan rata2 adalah mreka yg bergolongan muda. Yang tua?Ada beberapa tpi pada masa2 ini seorang manusia akan cenderung memikirkan masalah2 lain seperti keluarga dan kerjaan. So…their idealism might be compromised because of this.
Eniwei, menarik utk dilihat bagaimana mahasiswa tlh berperan dlm konteks mreka sebagai agen perubahan. Sejak reformasi 10 tahun silam, mahasiswa seakan menemukan momentum mreka kembali utk dapat bertindak sebagai agen perubahan seiring keadaan yang memaksa mreka. Sd skrng pun, mahasiswa masih senantiasa menyuarakan berbagai aspirasi mreka akan tatanan hidup yang ideal dan lebih baik. Tentu menurut versi mreka masing2. Saya tidak akan membiacarakan apa yang mreka aspirasikan. Terlalu panjang tuk dibahas. Saya lebih tertarik terhadap apa yang mreka lakukan untuk menyuarakan aspirasi itu.
Seakan sudah menjadi pakem dan tradisi bahwa penyampaian aspirasi harus dilakukan dengan turun ke jalan dan melakukan unjuk rasa. Ngga masalah bagiku. Namun yg jadi masalah adalah apa2 yg terjadi setelah itu. Sebagai suatu tindak unjuk rasa, penyampaian pendapat mreka di muka umum sudah merupakan suatu aspirasi. Namun mahasiswa skrng seakan merasa bahwa hal ini aja g kan cukup tuk menyampaikan aspirasi mreka. Sehingga….terkadang hal2 aneh dan ajaib pun sering mreka lakukan sebagai bumbu unjuk rasa mreka.
Mogok makan, penyanderaan kendaraan, pemblokiran jalan, dan hal2 aneh lainnya bisa menjadi salah satu cara agar dapat menarik perhatian masyarakat luas. Namun demikian, apa bener aspirasi mreka tersampaikan?Apa bukannya masyarakat yang menyaksikan mreka bukannya tambah antipati dan benci dengan cara2 mreka yang terkesan tidak cerdas, mengganggu dan merusak itu?Padahal sebagai mahasiswa, sudah seharusnya mreka memperlihatkan suatu kematangan berpikir dalam pikiran dan tindakan mreka. Bukannya malah memperlihatkan suatu tindak kebodohan dan anarkisme.
Saya yakin, masyarakat tetap mendambakan adanya suatu unjuk rasa once in a while. Hanya saja, saya yakin mreka takkan senang pula kalo cara unjuk rasa itu dilakukan dengan cara2 yg justru kontraproduktif dan berlawanan dengan nilai intelektualitas mreka sebagai mahasiswa. Sebagai mahasiswa, saya rasa mreka perlu menyampaikan aspirasi mreka dengan cara dengan kekuatan logika, bukannya logika kekuatan. Kalo demikian caranya, bukan tidak mungkin mahasiswa akan kehilangan simpati mreka dri masyarakat akibat perilaku mreka sendiri.
Bicara masalah perilaku, hal ini juga terkadang menjadi suatu ironi. Masih banyak dijumpai aktivis mahasiswa yang antara tindakan dan apa yang mreka sampaikan bertolak belakang 180 derajat. Seakan dunia kampus dan luar adalah 2 dunia yg berbeda sama sekali. Juga fakta bahwa aktivitas mreka sebagai aktivis juga harus mengorbankan kuliah mreka. Ironi memang. Dalam berkehidupan d kampus, tentu ada trade-off 2 tertentu yg harus dilakukan. Namun dari pengalaman dan pengamatan saya sendiri, sudah jadi rahasia umum bahwa kul cenderung ditinggalkan.
Hal2 diatas merupakan suatu sentilan belaka terhadap bagaimana seharusnya mahasiswa berlaku dalam menyampaikan aspirasi mereka. Juga agar mahasiswa tidak lupa terhadap kewajiban utama mreka untuk belajar. Tentu masyarakat akan lebih respek klo yg demo2 itu adalah mahasiswa dgn IPK2 tinggi. Dengan demikian, akan terlihat kecerdasan dan intelektualitas dia di mata masyarakat. Nothing is perfect really. But at least we can try even the equilibrium between study and our role as an agent of change. Its not hard, but it just needs commitment, hard work and a couple of sacrifices.
Friday, June 27, 2008
After Capitalism (Part 2)
Kembali ke topic. Sebagaimana telah kujelaskan d blogku sebelumnya, begitulah dampak nyata kapitalisme d ozzy yg kutinggali skrng ini. Singkat kata, g seindah apa yg digembar gemborkan oleh para pendukung kapitalisme selama ini.
Itu masih kalo dilihat dri segi materi. Tapi yg paling parah dari kapitalisme ini adalah hilangnya aspek moral dan hari nurani manusia. Aq g kan heran dgn fakta ini karena bagaimanapun, kapitalisme yg mementingkan segi pengumpulan materi duniawi dgn cara apapun, tentunya akan menggerus nilai moralitas, nurani dan tentunya rohani.
G susah kok nyari contoh nyata tuk hal ini. Saksikanlah bagaimana dekadensi kapitalisme telah member jalan terhadap lahirnya fakta seperti munculnya kaum hombreng, seks bebas, individualism, bunuh diri, pedofilia, korupsi, pluralisme agama, dan HIV/AIDS.
Ketika agama pun dijadikan pelarian utk menutupi kekurangan dan kekeringan batin akibat ketidakmampuan kapitalisme memenuhi naluri manusia yg satu ini, apakah agama sukses?Jawabannya bsa ya bsa tidak. Tidak jika agama hanya dijadikan sarana memenuhi aspek rohani belaka. Memang, semua manusia akan butuh sarana pemenuhan utk menyalurkan naluri kerohanian mreka. Namun demikian, pemenuhan naluri ini saja tidak kan pernah cukup tuk menyelesaikan berbagai masalah di dunia yg telah bagaikan benang kusut.
Dibutuhkan suatu solusi komprehensif dan alami sesuai fitrah manusia utk dapat menyelesaikan masalah2 diatas. Kapitalisme?Jelas2 ini telah gagal menyelesaikan masalah dan juga sekaligus gagal memanusiakan manusia karena membuat manusia menjadi hamba materi. Sosialisme?Keruntuhan entitas pengusung sosialisme/komunisme pada awal dekade 90an telah menunjukkan bahwa ideology ini tdk lebih baik dri kapitalisme sekalipun.
So…what’s the solution. I’ d say back to Islam. Why would I say this? First, empirically, Islam tdk hanya merupakan suatu agama ritual belaka tpi sekaligus juga merupakan agama yg member tuntunan hidup terhadap semua sendi kehidupan baik itu sosial, masyarakat, makan-minum, cara berpakaian, ekonomi sampai politik. Kedua, secara historis, Islam pernah Berjaya selama kurang lebih 13 abad lamanya dalam menerapkan syariah-Nya dan selama itu pula tidak hanya umat Islam yang diuntungkan tpi umat agama lain.
Yang jelas ini bukan merupakan suatu utopia karena dulu pernah diterapkan. Hanya dibutuhkan pencerahan dari umat manusia utk dapat memahami bahwa gusti Allah SWT telah memberikan kita seperangkat aturan yang Maha Agung yakni syariah-Nya. Kenapa kita masih berpaling pada yg lain dan telah terbukti mendatangkan bencana dan malapetaka tiada akhir?Kalo kita melihat, memikirkan dan merenung berbagai fakta dari kapitalisme, akan kita dapati bahwa hanya masalah waktu saja sd kapitalisme akan bernasib seperti komunisme dulu, yakni keruntuhan dan kehancurannya. Kapan?Only the heavens know…But then…everything can be excelled with the will and power of mankind. We r not just puppets of the skies, but we have the power to decide our own fate and future. So….it all goes back to mankind, do they wanna perish or go forward…?
After Capitalism (Part 1)
Its been 5 months here in ozzy. I'm not again in the mode of adapting myself, but already starting to enjoy things here. Despite enjoying things, there are certain facts that u just cannot ignore whatever it is.
Even though u can enjoy ur live in ozzy, whatever status u r. Wether as a student, a worker, a PR or even a citizen, there r limits on how much of a life u can enjoy here. Even though ozzy, as like various other modern countries in the world such as USA, UK, Japan, France and the other bunch, have a dazzling light on the infinite opportunities they can offer, their light is starting to wane away.
Where shall i start?I'll start from the one point which is oil. Its common knowledge now that oil price is soaring to unexpected levels beyond ones forecast. This has led to various rise in prices of other commodities, mainly those for fulfilling a basic needs of a person. This has led not only people in third world countris to suffer more, but people in countries mentioned above r also starting to suffer the dire consequences of the hiking oil prices.
Thats from one aspect which was oil. Other aspects concerns the the welfare of the people here. At once, I thought that the people in modern countries with their capitalism, where living in an other world. Where everything was affordable and they could buy anything to their hearts content. Where money could buy anything. But then...all those things were just a mere illussion. It turned that people here r even suffering more of the effects of capitalism. It might not seem that way but thats because the proponents of capitalism r just struggling to hide the decays of capitalism. I've seen many examples here. People struggling to get their centerlink money. Pensioners neglected by the government. Indigenous people deliberately marginalized. What more can u ask?
The jargon that money would flow to the society according to the trickle down effect has been a complete lie. The truth is in capitalism, once a person lay their hands on a money, they would try everything to keep their money 2 themselves and fulfill their greed to gain more money at the cost of others. The trickle down effect would only happen in the form of leakages that would even be in the form of petty cash.
To Be Continued….
Saturday, August 04, 2007
When people loot our backyard....
The hassle on this DCA first started when Indonesia and Singapore agreed singing an agreement to extradise corruptors that are suspected to have taken shelter there. Things turned out good when it was discovered that the agreement was also in tie with a DCA also to Singapore.
Parliament went wild after knowing that various points in the DCA turned out to give much advantage towards Singapore when they conduct a military exercise. As a reminder, the whole DCA is about letting Singaporean Military force to do training on certain Indonesian soil and water. For exchange, Indonesia get to try and train with their military equipment which of course is far advanced than ours. Knowing the details, many people showed their dissagreement against the DCA. One of the main points is that by doing so, we are letting other nation to play around in our backyard. To make things worst, in some conditions, Singapore are allowed to invite another nation to loot Indonesian seas.
Well, the logic is, why let other people loot our backyard just for the sake of grabbing those corruptors or having a try at their advanced military equipment. It sure is an irony having to know that even though Indonesia has a vast area, but we don't have what it needs to defend it. Coz of this, Indonesia has always been played around by other nations in terms of their inability to guard their own teritorry.
So...would we mind another nation doing so. While they fire missiles, torpedoes and live amunition, the risk of poluting the environment is high? Not to mention that fishers cannot go fish while they have their exercise because they get the risk to get killed. But, what matters most is the breach of our sovereignity and our submission towards another country pressure. Is the price of getting back corruptors so low that we are able to sell our pride as a big nation???I'm pretty sure that the majority of the Indonesian people wouldn't do such things unless they are the ones who are able to sell their souls to the devil.
Thursday, July 26, 2007
CSR....do we really need this???
Anyway, I’m sure some of you don’t have a clue on what’s CSR. CSR stands for corporate social responsibility. It’s a kind of responsibility that a corporation must carry out as an act of responsibility towards their environment and social surroundings. It may sound like something noble. Well, virtualy it is. But still, for decades, it has been one of the major dispute on wether corporations should incorporate it through its operations.
The major destruction that have been plaging the planet for the last 5 decades, especially for corporations that work in excavating fields like mining, foresting and sorts of have been causing heaving wreckage to the earth environment. Eventhough the destruction is evident, still, little action is done to repair it. Not only the environment that suffers the most, but also the social life including the people around the area of operation suffer directly from them.
Due to those kinds of circumstance, CSR has received many attention and support for its implementation. And it is starting to be the pivotal point in many major corporations to applu good corporate governance, in which CSR is also a part of it. Some countries have also managed to make CSR as an obligation to corporations, with a sanction for not doing so.
Despite the growing support and visible action, there are still some points that still bother me personally in how CSR is conducted. Eventhough it is obliged for corporations to implement it, the fact is that it is still only a voluntary act. In other words, there ain’t any laws or rule that tie them to do CSR. Other facts are that eventhough corporations claimed that CSR has been implemented, many people residing near the corporations main facility claim that they haven’t received any sort of attention what so ever from the compnay despite them exploiting the environment.
That’s the big picture on CSR for the moment. In Indonesia, the news has recently bought up topics abaout CSR in the process of being included in an act which makes compaies obliged to conducted CSR, especially for resource exploiting companies. And as expected, the number of critizism has risen. Most of them reject the act which requires firms to have to implement CSR as an obligation and not as a voluntary act. Well, it seems firms do have one thing in common around the world if it goes to this part.
To me, companies of course need to pay attention to their current surroundings, and imlementing CSR is one part of it. But still, CSR should be done in a proper manner such like carefully planned with other groups and communty. Companies can’t just live and do nothing about their falling surroundings when they gain money day by day from using up their environment. Also, CSR is not to be limited to resource exploting companies, but all firms should conduct CSR as well. The method may differ between different industries, but still, as long as as companies start to give more attention and compassion towards their surrounding, then corporations and the social environment can live in harmony together without any disputes.
School....Mahal La Yau....
Jumat pagi, aku sedang menunggu omd hi. Tiba2 yang datang malah tukang koran. Well...aku sih dah firasat bakal ada penagihan di muka seperti bulan sebelumnya. Hanya saja...kali ini bukan karena ada anggota keluarganya yang sakit...melainkan untuk biaya masuk sekolah anaknya. Kaget juga gw pas denger tuk masuk SD aja harus bayar 1,5 juta...wuiiihhhh...
Belum selesai rasa trenyuh gw eeeehhhh...pas baca koran headlinenya kurang lebih menggambarkan para guru2 demo menuntut anggaran pendidikan 20% dipenuhi pemerintah. Yang murid ngga sanggup bayar eh yang guru pada demo...so....mana letak masalahnya...
Kalo gw bilang sih masalah awalnya adalah dipertanyakannya niat pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Seperti yang tercantum di UUD, gw yakin tiap orang punya hak untuk mendapatkan pendidikan terlepas status sosialnya. But reality really bites hard. Nyatanya hanya orang-orang terpilih dari jutaan orang di republik ini yang sanggup mengenyam pendidikan. Orang terpilih dalam hal ini adalah orang yang sanggup mengeluarkan uang untuk mendapatkan tempat di sekolah yang diinginkan.
Faktanya jelas sekali sekarang ini bahwa bagus tidaknya mutu pendidikan seringkali harus berbanding lurus dengan banyak tidak uang yang dimiliki seseoarng. Aku jadi teringat ketika mendengar SMA menarik uang sebesar 5jt tuk biaya masuknya. Emang sih...sekolah internasional gitu lho. Tapi kok mahal banget rekkkkk!!!
Jadinya, memang negara atawa pemerintah sebagai pengelola bangsa ini, patut dipertanyakan niatannya dalam mencerdaskan rakyatnya. Jangan salah.....gw yakin kenapa kehidupan negara ini senantiasa kacau balau tak pernah terib dan makmur sebagian besar adalah karena tidak terdidiknya rakyatnya. Entah karena mereka ngga mampu bayar ato jangan-jangan emang dasarnya ngga mau belajar.
Berhubung gw ini mahasiswa (yang baru lulus), gw kasih contoh yang deket yakni mulainya beberapa PTN berusaha meraih status BHPN. In other words, dengan status ini, PTN tersebut kurang lebih dilepas oleh pemerintah untuk mencari dana sendiri secara mandiri. Dengan demikian, pemerintah dah ngga ngasi subsidi lagi. As the result is logically, biaya pendidikan tentunya juga jadi naik laaahhh. Dalihnya sih walo naik tapi kenaikan tersebut akan disubsidi silang. IMO...gombal bangeeeettttt.....Dan walopun beberapa belum mendapatkan status itu, tapi seperti mereka dah mulai membuat ancang-ancang. Salah satu buktiny adalah dengan dikuranginya jatah kursi lewat SPMB dan dialihkan ke jalur SPMK/PMDK yang notabene harus bayar lebih mahal daripada SPMB. Terbukti lagi kan kalo yang akhirnya bisa mendapatkan pendidikan adalah yag lagi-lagi yang punya doku banyak. Bisa-bisa kalo gini yang jadi ekstensi adalah yang berasal dari SPMB karena jumlahnya dikit dibandingkan dengan mereka yang dari SPMK....
Ngga cuma para calon siswa ato mahasiswa yang sengsara. To make things worst...para guru pun juga merasakan derita yang kurang lebih sama kalo tidak dikatakan lebih mederita. Ditengah peranmereka tuk menghasilkan tingkat output pendidikan yang memadai dan layak, mereka sendiri didera himpitan ekonomi yang seringkali memaksa mereka tuk mengabaikan peran mereka sebagai guru dan nyambi bekerja di tempat lain demi memenuhi kebutuhan nafkah mereka. Masih untung kalo dosen, coz biasanya kalo dosen kenal deket ma pihak2 lain biasanya dapat proyek ato apalah gitu, tapi kalo guru..??paling2 ngojek ato ngajar les ditempat lain.
Harus diakui, memang harga sebuah ilmu itu mahal. Harus ada pengorbanan baik jiwa dan materi tuk mendapatkan dan menguasainya. Namun, mengingat ilmu adalah hak tiap insan yang hidup, harusnya bisa diusahakan lewat sebuah political will tuk mengusahakannya bagaimaapun agar pendidikan bisa dinikmati berbagai kalangan. Jangan salah, pendidikan tidak hanya perlu tuk membangun sebuah negeri, tapi penting untuk mengasah pola pikir dan intelegensia seseorang dalam memikirkan sesuatu. Ini juga agar rakyat sini tidak mudah di-"plokotho" negara lain yang ingin menjajah negeri ini kembali. Ato jangan2, emang sengaja diatur supaya orag sini mudah di-plokotho biar ngga mikir macam2 dan mudah disuruh sana sini???wallahualam....
PS : Intinya, jika ada kemauan, pasti pendidikan murah ato gratis itu bukan hal yang mustahil. Yang penting ada kesadaran dan langkah nyata untuk mencapai hal ini!!!
Wednesday, February 07, 2007
Banjir.........BAAAHHHHH!!!! (Dibaca : Biarkan!!!!)
Yup, Indonesia harus gw akui sedang dilanda musibah dan bencana berkelanjutan. Belum hilang peristiwa tenggelamnya KM Senopati di laut jawa dan nyungsepnya pesawat Adam Air di sekita laut Sulawesi serta anjloknya berbagai kereta api di tanah air ini, eh ternyata......terjadi banjir yang hebat. Ngga tanggung2, yang kena paling parah adalah ibukota sendiri yakni jakarta. Sekarang kota ini jadi lebih mirip kubangan air raksasa kalo dilihat dari atas. Pokoke pangling dah.
Kadang gw ampe heran sendiri, kok Indonesia banyak amet ya dapet musibah. Ada aja kasusnya, baik yang bersifat menular, yang kecelakaan murni ampe yang bau-bau human error. Kalo Irak katanya dijuluki negeri 1001 malam, gw sekarang mau njulukin Indonesia negeri 1001 musibah. Bedanya disini ngga da perang kaya di irak aja. Bahkan kalo mau gw urut rasanya bisa2 berita di koran bisa nutupi semua jatah halaman yang ada. Ya...iseng2 aja gw daftarin musibah dan kecelakaan yang mungkin terjadi di republik ini dan ternyata emang mendukung hipotesa gw tentang negeri 1001 musibah. Ini daftarnya....
Tanah Longsor, Gunung Meletus, Banjir bandang, Tsunami, Banjir Lumpur, Gempa Bumi, Pesawat jatuh, kereta anjlok, kapal tenggelam, Flu Burung, Demam Berdarah
Banyak juga ya rupanya. Bahkan list ini masih bisa ditambah andaikan terjadi bom meledak lagi kaya di bali ato di kuningan. Kalo emang beneran kaya gini. suerrrr.....lengkap dah negeri ini deritanya.
Ngeliat keadaan yang sedemikian parah, ya gw sebagai manusia yang pengen mutu hidup dan kehidupan gw lebih baik juga turut prihatin. Tapi biar ngga ampe strezz banget gw akali dengan joke2 seger dalam hidup gw. Sebagai contoh, pernahkah kita berpikir kenapa banjir kiriman selalu melanda jakarta???Gampang!!!!!Namanya juga banjir KIRIMAN, KIRIMAN JEKKK!! ya yang namanya kiriman mana mungkin kita tolak, bener ngga??yang bisa ya cuma nerima aja. Makanya Jakarta selalu kena banjir. Terus pernahkah kepikiran kenapa jika terjadi banjir bah di jakarta para pejabat kok cuek banget??Namanya juga banjir bah....ba bah, yang dalam bahasa jawa biarkan saja!!Make sense kalo rasa peduli pejabat ngga ada coz mereka saja sudah menamai banjir dengan banjir bah!!! So Be It mungkin kata mereka...
Lucunya lagi, ngeliat jakarta yang sedemikian ruwet karena banjir, tiba2 gw denger berita yang menyatakan SBY setuju untuk membuka pintu air manggarai agar air dapat mengalir dengan risiko istana juga kena banjir. Nahh ini dia....sebab musabab banjir pikir gw. Lha pintu air manggarai aja ngga dibuka, makanya nggarai banjir di jakarta (manggarai = tadi menyebabkan dalam bhs jawa).Secara singkatnya, rupanya akar masalahnya dipelihara ma kota itu sendiri sehingga senantiasa menyebabkan banjir.
GW tebak, andaikata bung karno melihat hal ini, paling2 dia bakal nyuruh ibukota pindah kembali ke Yogyakarta kaya jaman perang kemerdekaan dulu. Kalopun pindah sih gw setuju aja. Lagian kalo gw bilang, yang namanya ibukota ngga selalu harus merupakan pusat segala2nya di republik ini. Pusat2 seharusnya disebar ke seluruh Indonesia, sekalian perataan pembangunan. Kalo ngga gitu sekali kena musibah gede ya kena semua, contohnya ya banjir ini nih.
Tapi andaikan.....andaikan ibukota jadi pindah karena banjir ini (maksa banget ya...^^;) gw usulkan pindah aja ke Malang!Kok malang??Banyak alasannya kok. DI Bandung....banyak sampah, di Yogya....dah pernah (gantian doonk), Di Semarang.....terlalu bukit, Di Surabaya.....panas rekkk,lagian ntar kalo bangun istana bisa2 dijarah bonek2. Nah, paling cocok ya di Malang. Belum rame, relatif sejuk, ramah dan aman. Kenapa gw bilang aman, coz setau gw seumur-umur republik ini, ngga pernah ada bom yang meledak di Malang, atau ada serangan teroris segala. Ada juga terorisnya malah ketangkap di Batu 2 tahun lalu. So, i think Malang does fit to be a capital...who knows sometimes......
Namun demikian, kalopun jadi Jakarta tenggelem oleh air, janganlah bersedih, gw punya usul yang lebih realistis juga. Jadikan aja Jakarta kota air macam kota Venezia. Keren tuh!!!!No polution at all juga tentunya. Asik2 aja kalo gw bilang kaya gini. Malah unik pula coz jadi kota air terbesar bisa2 nantinya.
Last but not least, dari segi klenik dan gaib pun bisa dikaji banjir kali ini menurut gw. Inget2 kalo di porong khan pada kena banjir lumpur selama hampir 1 tahun ini. Nah, bisa jadi mereka pada berdoa gini "....YA Allah, berikan hambamu ini teman dalam menjalani penderitaan ini....". Nah kali2 aja yang ketiban "rejeki" ini adalah kota Jakarta. Kurang apa coba, yang ngedoain aja kyai, ustadz, belum para bonek2....so, lumayan manjur khan??!!
Inget porong inget lumpur. Inget lumpur inget kuala lumpur ibukota malaysia. Nah, kurang hebat lagi apa coba. Indonesia aja punya 2 ibukota, belum jakarta statusnya sekarang sebagai kota air bak Venezia, apa gw julukin Indonesia sebagai kota Internasional aja ya???Banyak yang bisa diplesetin jadi kota2 terkenal di nagri, ex: Milan-Malang, Jerman-Jejer Kauman dll.
Dah ah, capek nih, semoga bangun besok banjirnya dah surut, kasian yang pada kena tuh, sorooooo urip e.....
Saturday, January 27, 2007
Dates of Time
Untung manusia diciptakan berpasangna, pria dan wanita. Sungguh, aq ngga bisa ngebayangin apa jadinya kalo ngga ada wanita ato ngga ada pria. Mungkin pada hemaprodit kali yee kaya bakteri bersel tunggal yang kaya di buku biologi (eh...bener ngga??). Oleh karena itu, sumpah gw ampe sekarang ini heran, kok sampe muncul yang namanya kaum gay n lesbian. Kalo kata temen2 gw bilang, emang enak batang adu ma batang ato emang enak lobang diadu ma lobang???Ngga ngerti???bagusss!!!Berarti anda yang membaca ini gw anggap masih berjiwa murni. Belum terkontaminasi polusi kelas berat yang namanya Viktor alias vikiran kotor!!!
Bicara masalah hubungan antara lawan jenis biasanya sih membiacarakan hal2 kaya pacaran, a pre-nuptial relationship to strenghten the bond between the opposite sex. Yaaa...ini pengertian singkat menurut gw sih. Tapi jujur aja, maknanya ngga sedalam itu kok. Malah ada yang berusaha memperluas pengertiannya sehingga malah jadinya jauh dari makna semula sebagaimana pertama kali muncul. Kalo gw sih simpel aja, orang2 pada ngomong gimana itu pacaran, nah gw sih mbandingin aja ma faktanya gimana. Tapi yang namanya pengertian bagi gw tetep memegang posisi penting, coz that's where everything starts.
Kondom....eh maksud gw konon....sepasang manusia kalo dah pacaran (gw bicara dalam konteks pria dan wanita loh) katanya dunia indaaaahhhhh banget. Katanya sih...habisnya jujur aja, gw sendiri belum pernah ngerasain pacaran (entah suatu hal yang sampai saat ini patut aq syukuri ato malah harusnya kusesali). Dunia serasa hanya milik berdua. Sampe2 mboncengin pacaranya ngga merhatiin kalo dibelakangnya dah diklakson n di-bleyer ma mobil2 n sepeda2 yang menunggu tuk nyalip. Tai pun serasa coklat. Kalo tuk perumpamaan terakhir ini gw ngga tau apa yag buat perumpamaan ini pernah tiba2 makan tai terus mungkin belum ada coklat di indonesia makanya dia bilang demikian, entahhh pula. Pokoke banyak perumpamaan yang menggambarkan dunia dan kedaan orang yang pacaran. Kebanyakan kalo gw sebut satu2 per satu. Ntar bukan blog namnya, tapi buku kumpulan perumpamaaan deh.
Tapi kalo gw mau jujur aja merhatiin orang2 yang pada pacaran, apa bener seenak yang digambarkan???Yaaa...gw sih ngga memungkiri bahwa yang namanya pria butuh wanita dan sebaliknya. Itu fitrah kok. Sebagaimana dikatakan oleh Dewa 19 "...Hawa tercipta di dunia, untuk menemani sang adam...". Namun kadangkala gw mikir tentang pacaran itu. Apa sih yang bisa kita dapatkan. Ampe2 gw pernah melakukan studi banding n kontemplasi secara mendalam mengenai hal ini, baik dari segi agama, manfaat, kesehatan dan psikologis (kaya peneliti aja gw ^^;). Ternyata......lumayan banyak yang gw dapat.
Pacaran bisa berbagi rasa, saling curhat, saling menyayangi n terutama menunjukkan rasa kasih sayang kepada yang dicintai. Namun gw kepikiran pertanyaan ini. Apa ngga bisa kita sebagai manusia menyayangi lawan jenis jika ngga pacaran???Apa pacaran tuh satu2nya, the only choice n way to show our affection, love n feelings towards our loved person. Kalo gw bilang sih ngga. Rasa suka sebagaimana dah gw bilang, yaitu hal yang alami. Allah SWT ngga akan marah, murka apalagi nurunin azab hanya karena sepasang manusia saling mencintai. Kalo emang bakal kaya gitu, trus gimana nasibnya Adam dan Hawa???Namun rasa suka itu ternyata hanya merupakan bagian dari naluri kita sebagai manusia. Nah, kalo kita mau melakukan dikit merenung, apakah naluri itu sama dengan kebutuhan????
Kalo gw bilang suatu hal itu kebutuhan apabila jika ngga dipenuhi maka nyawanya akan terancam. Misalnya makan dan minum. Mau nyoba ngga makan dan minum selama sebulan aja, dijamin langsung ke seventh heaven (itupun kalo amalnya tokcer lho!!).Intinya kebutuhan harus dipenuhi tuk kelangsungan hidup. Tapi kalo naluri???Ternyata naluri pun ngga dipenuhi ngga bikin mati. Thank God. Tapi tetep ada efek samping...lho apaaan????Tenaaaannngggg, ngga bakalan mati kok, cuma bakal bikin kita resah aja. Tapi resah ini pun juga bisa diatasi coz sifat dari naluri sendiri tidak menuntut sebuah pelampiasan tunggal sebagaimana kalo makan ya harus makan, minum ya harus minum. Pemenuhan naluri ada banyak caranya. Tapi belum tentu cara2 yang banyak itu juga bener semua.
Ternyata pun orang yang ngga pacaran hidupnya bisa indah. Lha kok bisa? Bukti pertamanya aja ya mereka yang ngga pacaran pun masih pada hidup. Sehat walafiat and still in one piece. Bukti terdekat adalah gw sendiri (he..he.. narsis dikit ngga papa kan). Malah kadang2 mereka lebih produktif coz waktu mereka ngga tersita tuk pasangannya. Bukan berarti yang dah pada punya ngga produktif sama sekali. Masalah kasih sayang. Tenang azaaaaa.....yang pada jomblo juga bukan berarti miskin kasih sayang kok coz kalo gw bilang sih, yang namanya kasih sayang ngga harus datang hanya dari lawan jenis aja khan??Kasih sayang bisa datang dari lingkungan sekitar, alam serta Allah SWT. Intinya kan bagaimana membuat kita merasa diperhatikan dan dipedulikan, itu kan sebetulnya esensi dari kasih sayang.
Dah dulu ah, panjang banget nih kalo gw jelasin. Tapi gw janji kok ngelanjutin blog ini. Jujur aja, dah lama gw pengen angkat masalah ini dalam blog gw. Apalagi ada temen gw yang kebetulan juga mengalami hal yang sama terkait tema ini. So till we meet again....^^
Saturday, December 09, 2006
Coligami....eh....poligami!!
Dah lama ngga nulis sesuatu yang serius. If I recall correctly, terakhir aq nulis yang serius yakni pas di dua postingan pertama di idul fitri. Pengennya sih tiap nge-post ada seliapan sesuatu yag serius. Tapi ternyata ngga segampang yang kukira, coz butuh inspirasi n suatu macam kaya "...ahaaa..!!" agar bener2 in dalam menulisnya. Thanks a lot, akhirnya ada sesuatu serius yang bisa kutulis sekarang. Walo mungkin agak berat temanya tapi aq kan berusaha tuk menulisnya agar dapat mencerminkan isi hatiku.
Masih baru kok mengenai apa yang aq mo bahas, yakni poligami. Gara2 seorang ustad terkenal di negeri ini nikah lagi, rame deh berita2 dimana-mana, ngga di koran, TV n di internet. Dan seperti yang bakal aq perkirakan, pastinya ada (dan banyak rupanya) pihak2 yang menyatakan ketidaksetujuannya, terutama para aktivis perempuan dan feminisme. Ngga cuma itu saja, tentunya ustad yang bersangkutan juga konon katanya menuai hujatan, cacian dan celaan atas tindakannya menikah lagi. Yaaa, risiko sih kalo menurut gw, hanya saja cukup menarik jadi perhatian coz dulunya dia disanjung-sanjung karena dianggap sebagai figur agamawan yang membawa hawa agama yang moderat dan lebih modern. Namun apa daya citra itu rusak karena dianya yang berpoligami.
Entah kebetulan ato gimana, pada saat yang bersamaan, gencar berita mengenai kasus rekaman porno seorang anggota DPR dengan seorang penyanyi dangdut. Yang seru disini dua berita ini beriringan diberitakan pada saat yang bersamaan. Things are getting hot ketika si penyanyi melakukan road show pada hampir semua channel TV tuk menjelaskan kasusnya namun entah kenapa pasangannya si anggota DPR malah nyungsep ngga jelas kemana rimbanya. Mungkin si penyanyi lebih berani ato gimana. Tapi jelasnya sih ada suatu paradoksisme dalam dua berita yang mirip namun serupa ini.
Menarik tuk dibahas yakni mengenai poligami itu sendiri serta sikap2 yang mengiringi di masyarakat kita. Poligami itu tuh aslinya bukan dari Islam (as far as I know), coz barang ini dah ada sejak zaman baheula. Hanya saja kalo dulu tuh kalo orang dah berpoligami bisa ampe ratusan orang tuh. Maksudnya istrinya bisa bejibun ngga jelas jumlahnya. Nah, ketika Islam turun, dibatasi lah jumlahnya menjadi maksimal empat orang. The problem is, kenapa sih poligami tuh antara ada dan tiada pada setiap zamannya???
Kalo nuruti naluri lelaki, maka samsons berkata seperti ini "...Tolong dekati aku, tolong hampiri aku, tolong jamahi aku...". Maksudnya lelaki emang dasarnya senang pada banyak wanita. Lain lagi kalo dia emang ngga bisa pindah ke lain hati seperti kata mas karton eh katon, berarti dia termasuk cowok2 yang setia hanya mau terikat oleh satu wanita. Ada bukti kuat kok kalo lelaki dari dulu ampe sekarang kan senantiasa mencari wanita lain, tanya aja grup band RATU dengan lagu "lelaki buaya darat", Sheila On 7 dengan "Sephia"-nya dan lain2. Jelas banget kalo lelaki biasanya (coz ngga semua sih) nyari usaha sampingan eh maksud ane ban serep (mereknya apa nih, bridgestone ato michellin ??)
Cuman, tinggal bagaimana naluri tersebut dimanifestasikan or bahasa halusnya bagaimana pengejahwantahannnya??? Makanya Islam ketika turun langsung membatasi maksimal 4, bukannya melarangnya. Coz emang disadari kalo hal2 beginian tuh naluri yang butuh wadah pelampiasan yang sesuai. Dengan demikian makan Islam memberikan suatu wadah akomodasi terhadap hal ini. Yang jadi masalah berikut adalah bagaimana poligami sekarang dan kaitannya dengan Islam yang mempersilakannya.
Kalo gw baca di Qur'an sih sekalian ma terjemahannya, emang ditentukan syarat adil kalo mo berpoligami. Masalahnya definisi adil tuh gimana???nah, pasti beda2 tiap orang. Dan kalo menurut gw, ngga ada manusia yang bisa 100% bisa adil kecuali kanjeng rasulullah SAW. Sepakat ngga??? Nah, kalo manusia awam ngga bisa dil trus kok tetap poligami tuh dibolehin padahal aq yakin yang empunya ngarang Al-Qur'an yakni Allah SWT pasti juga tau kalo manusia ngga bisa adil 100%. Kalo menurut gw itu bukti kasih sayang Allah SWT ama ciptaannya biar ngga bingung dirundung masalah terkait beginian. Kalo emang ngga sanggup ya satu, kalo sanggup yang monggo.
Nah, kalo nuruti adil tuh kalo menurut gw kembali ke pelaksana yang bersangkutan. Coz hanya merekalah yang tau bagaimana tuh adil dalam perpsektif prakteknya secara langsung ato first hand. Kalo yang ngomong2 di depan umum doank jujur aja yakin mereka sendiri ngga bakal bisa merumuskan definisi adil secara memuaskan. Apalagi aq juga tambah yaki coz emang mereka bukan pelaku poligami so mana tau rasanya poligami atopun dimadu, ya ngga??Kalo tanya gw bagaimana adil dalam berpoligami??? Ya bagaimana perhatian terhadap masing2 istri bisa dibagi secara proporsional dan pada waktu dan tempat yang tepat. Gila aja kalo si suami bercumbu ma istri yang keberapa didepan istri lainnya. Itu mah ngga jaga perasaan atuh...
Menarik tuh kita ketahui bahwa rasio pria dan wanita di dunia dari dulu ampe sekarang ternyata ngga pernah bisa 100% 1:1. selalu lebih, malah kalo ngga salah aq pernah denger ampe 1:12 malah, jauh melebihi yang dibatasi oleh Al-Qur'an yakni 1:4. ah, kalo dah gitu, kalo emang kita bener2 memperjuangkan keadilan sejati, kalo kita monogami, trus yag lainnya mo dikemanain????perempuan khan juga haus belaian dan kasih sayang, ntar malah jabali kalo ngga gitu. Ngga mungkin kan sisanya yang ngga ketampung disuruh melacurkan diri jadi PSK ato jadi istri selingkuhan ato istri ngga resmi. Patilah ngga ada pihak manapun yang mau wanita diperlakukan sebagai pelacur juga selingkuhan.
Masalah orang seringkali menutup mata terhadap fakta ini yang kalo nenurut gw dah hukum alam. Seringkali kita menuruti perasaan dan egoisme kita agar pasangan kita (dari sudut pandang perempuan) senantiasa setia hanya pada kita saja dan ngga boleh meleng ke orang lain, apalagi menikahinya...Alangkah indahnya kalo kita mau hidup dengan berbagi dengan orang lain dalam senang maupun susah (Duh....kayanya kok mimpi nih)
Kalo dibilang poligami identik dengan KDRT, kayanya perlu diliat dulu. Rasanya KDRT bisa terjadi dalam rumah tangga yang monomgami juga. Dan kalopun ada KDRT dalam rumah tangga yang poligami, menurut gw tuh laki-nya yang gendeng dalam memperlakukan wanita. Bukan berarti yag salah poligaminya. Lagian banyak tuh yang poligami tapi malah rukun2 dan tambah bahagia. It all depends on how u treat women not as a sexual object but as a friend and partner in life. Kalo takutnya wanita cemburu, yeeee,itu pasti lah. Makanya pinter2 lakinya dalam njaga kelakuan dan sikap bersama istrinya. COba aja tanya ke orang kaya pemilik ayam bakar wong solo (lupa gw namanya...), yo opo carane cek rukun karo bojo2 ne??
End notes, kalo gw ditanya setuju ngga ma poligami ya jelas gw setuju. Coz menurut gw itu solusi yang diberikan ma Allah SWT dalam mengakomodasi naluri ciptaannya. Tapi kalo gw disuruh ngelakuin ya moga2 aja sanggup. Coz gw sendiri ngga yakin bisa. Tapi tetap gw ngedukung yang ngelakuin poligami coz berarti mereka lelaki yang hebat. Coz ada pepatah lama "Bukan lelaki sejati jika tidak sanggup mengayomi banyak wanita". Tentunya banyak wanita batasannya 4 aja, ngga boleh lebih...Oyi..Toh lebih baik daripada zina ngga jelas kaya si anggota DPR yang kayanya sedang bernasib sial. Lagian ya goblok aja ngerekam adegan begituan.
Wednesday, October 25, 2006
Idul Fitri (Part 1)
here i am making another one...
Idul fitri sekarag nih, so met lebaran yach, what's good about this event?loads of things,
yang jelas qta bermaaf-maafan ma keluarga,kerabat,handai taulan dan orang orang yang qta kenal. Trus (here's the good parts),qta bsa makan sepuas-puasnya,coz habis puasa donk (pikiran bagi yang suka balas dendam) ato khan makanannya enak-enak (bagi yang tukang makan).Yang berikutnya (khusus bagi anak kecil),horeee....dapat uang saku ato bahasa inggris-nya angpaw (eh, bener nggak ??)
But, Idul Fitri isn't just about having fun. Well the majority is about it, but not really. If you lurk deep in to it, there's loads of problems about idul fitri.I'm not talking as if Idul Fitri is a problem nor as a troubelsome thing, it's just that the problems are lying around the main events itself
First of all, the problem is on when idul fitri is held ?this problems always happens each year in nearly every muslim state. Kenape?? masalahnya yakni perbedaan mengenai kriteria apa yag digunakan. Kerennya lagi, kadang satu negara atau bahkan satu kampung bisa lebaran beda hari (trust me, i experienced it myself this year). Ada yang bilang, " . . .biasa aja, itulah Islam, perbedaan itu bagian dari rahmat Allah. . ." ato ada juga yang begini "....biarin lah, kan keyakinan masing2 beda....". The question surrounding the problems is "is it really as simple as it is ?"
Unfortunately, the answer is :NO. Why ?kejadian-kejadian diatas sebetulnya disadari atau tidak menunjukkan betapa tidak bersatunya umat muslim dalam menyikapi salah satu hari besarnya. It's clearly shown, how they prioritize their nationality and patriotism dalam menentukan Idul Fitri. Padahal, lucunya lagi, antara dua negara yang sebetulnya bertetangga bisa beda hari pelaksanaannya, really-really weird. Padahal cara menentukan kapan dah masuk Idul Fitri ato belum sebetulnya mudah, lha kok bisa ? lha iya lha wog Kanjeng Rasul SAW
bersabda bahwa jika terlihat bulan maka besok berarti Idul Fitri. The problem disini adalah ada yangberangapan bahwa perbedaan wilayah ato negara turut menentukan, hontou desuka??
Perbedaan ini jangan disikapi sebagi sesuatu yang bagus, coz bagaimana pun, hal ini merupakan hal yang sifatnya prinsipil so harus diluruskan. Perbedaan wilayah negara harusnya jangan dikedepankan dalam penentuan Idul Fitri, why?karena hakekatnya umat muslim dimana pun adalah satu tubuh dan satu umat, so why be different when we can all unite as one???
I think that's bout my 1st blog, the next part will still be around my adventures in Idul fitri and around it,ah ya, feel free to comment,coz technically i do need it since it's my 1st blog, so see yaa